Banyak orang mengira bahwa bisnis properti adalah permainan untuk orang-orang kaya. Modal besar, koneksi kuat, dan pengalaman puluhan tahun seringkali dianggap sebagai syarat wajib. Tapi Samuel Bobby Hassan membuktikan bahwa anak muda pun bisa masuk ke dunia properti, bahkan mulai dari nol.
Di usianya yang belum genap 30 tahun, Bobby kini mobile antara Bali dan Jakarta, menangani berbagai proyek, termasuk pengembangan 25 unit villa di Bali yang ditujukan untuk pasar internasional.
Namun, kisah ini tidak dimulai dari privilese. Justru sebaliknya.
Dari Gagal Cari Kerja ke Properti Mangkrak
Setelah lulus kuliah, Bobby mengalami hal yang akrab bagi banyak fresh graduate: sulit cari kerja. Saat itu, sepupunya menawarkan satu opsi yang terdengar asing dan penuh risiko: belajar bisnis properti.
“Saya nggak punya modal sama sekali, tapi tetap saya coba,” kenang Bobby.
Alih-alih masuk ke properti konvensional, Bobby justru diarahkan untuk menggeluti segmen yang nyaris tak dilirik orang: properti mangkrak dan aset macet. Banyak yang menganggapnya berisiko, rumit, dan penuh masalah hukum. Tapi Bobby melihat potensi besar di sana.
Setelah belajar cara mengakuisisi dan mengolah properti-properti tersebut, ia sadar bahwa risikonya justru lebih rendah daripada yang orang kira, karena: 1) Ada fisik properti yang jelas, 2) Bisa dibeli jauh di bawah harga pasar, 3) Tidak perlu dijual mahal, sehingga cepat berputar di pasar.
Artikel ini juga tayang di VRITIMES






