PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus memperluas peran strategisnya sebagai katalisator kebangkitan nasional melalui transformasi transportasi berbasis nilai, teknologi, dan SDM. Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo menyampaikan hal ini dalam Mini Simposium Fakultas Psikologi Universitas Indonesia bertajuk Refleksi Hari Kebangkitan Nasional dari Perspektif Ilmu Psikologi, di Auditorium Gedung H Lantai 4, Fakultas Psikologi UI, Selasa (20/5).
Didiek menekankan bahwa Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan pengingat bahwa perubahan besar lahir dari keberanian untuk bersatu dan bergerak bersama.
“Transformasi KAI bukan hanya agenda bisnis, tetapi bagian dari gerakan kebangsaan modern. Kebangkitan adalah keputusan sadar untuk berubah demi masa depan yang lebih baik,” tegasnya.
Transformasi KAI dijalankan dengan tiga fondasi utama: Business Transformation, Digital Transformation, serta Organization and Culture Transformation. Ketiganya menjadi arsitektur perubahan yang dirancang untuk mempercepat pemulihan pasca-pandemi dan membentuk organisasi yang lebih tangguh dan adaptif.
“Sejak krisis COVID-19, KAI menerapkan empat strategi krusial: perlindungan terhadap pelanggan dan pekerja, menjaga stabilitas finansial, efisiensi operasional, dan optimalisasi pendapatan alternatif. Pendekatan inilah yang menjadi dasar reformasi menyeluruh yang kini terus berlanjut,” jelas Didiek.
Artikel ini juga tayang di VRITIMES






