Apakah Experiential Dining Kunci untuk Menarik Pelanggan di Era Digital?

Apakah Experiential Dining Kunci untuk Menarik Pelanggan  di Era Digital?

Benarkah experiential dining menjadi ‘bumbu rahasia’ dalam strategi pemasaran yang efektif untuk menarik pelanggan modern di era digital?

Di tengah arus konten yang tak henti mengalir di dunia digital, bayangkan kamu sedang doom-scrolling di aplikasi favoritmu. Scrolling mulai dari  konten haul baju, lalu jarimu berhenti sejenak di video ulasan kuliner yang digadang-gadang sebagai “hidden gem”. Lalu lanjut scroll kembali dan akhirnya ditutup dengan video brain rotting viral berisi tren terbaru. Visual yang menggugah dan hook yang punchy memang mampu menarik perhatian dalam hitungan detik. Tapi, apakah itu cukup untuk membuat seseorang benar-benar terhubung dan ingin kembali lagi pada brand yang sama?

Justru di era di mana semua serba digital seperti sekarang, brand perlu menyuguhkan aktivasi berbasis pengalaman yang unik dan berkesan untuk menjalin koneksi yang lebih dalam dengan audiens. Riset dari Forrester menunjukkan bahwa 76% konsumen mengharapkan interaksi yang terpersonalisasi di seluruh titik kontak mereka dengan brand. Fakta ini menjadikan immersive experience bukan lagi sekadar tren, tetapi sebuah keharusan dalam strategi pemasaran yang relevan dan berdampak.

Experiential Dining Lebih dari Sekadar Klik dan Like

Dalam konteks F&B, experiential dining tidak hanya soal menyajikan makanan yang lezat, tapi bagaimana menggabungkan setiap elemen dengan harmonis. Mulai dari ambience, pelayanan, hingga storytelling di balik menunya, semua berpadu untuk membentuk pengalaman yang melekat. Restoran yang menyuguhkan pengalaman dining seperti ini tidak hanya menciptakan kesan. Melainkan juga mendorong audiens untuk secara aktif membagikannya di media sosial, sehingga membangun word-of-mouth yang organik.

Artikel ini juga tayang di VRITIMES